Setelah era Revolusi Industri secara global, mesin-mesin canggih produksi mulai menjamur. Akibatnya, grafik supply sangat tinggi. Untuk mengimbangi dari grafik supply yang naik tajam ini, perlu adanya kenaikan demand pula–dalam hal ini negara dan pasar melalui sistem ekonomi kapitalis-liberal menjadi pemeran utamanya. Akibat dari penguasaan negara dan pasar bebas terhadap individu-individu, manusia menjadi konsumtif. Kalau zaman abad pertengahan manusia hanya menukar barang yang mereka butuhkan, sekarang manusia sangat ahli dalam menghamburkan uang untuk sesuatu yang mereka inginkan. Tentu, sifat ini dibutuhkan untuk mengimbangi kapasitas produksi mesin-mesin canggih tadi.
Selain mempengaruhi kekuasaan secara individu, negara dan pasar bebas yang dibantu dengan media informasi dan komunikasi yang hampir ngga ada batasnya ini membentuk suatu standard-standard sosial yang membuat manusia di dalamnya merasa “takut” kalo tidak mengikuti atau tidak memenuhi standard-standard itu. Mungkin kita sering denger : cowok itu harus ngerokok harus kumisan, punya pacar itu harus cantiknya objektif, belum gaul kalo belum open table, pemuda yang sukses itu yang bisa punya duit sendiri, belum dibilang kaya kalo belum punya iphone, laki-laki sukses itu ceweknya cantik, nikah itu sebelum kepala 3, anak kampus ini ya outfit minimal sekian juta lah, cewek itu belom cantik kalo ngga kurus, cewek cantik itu ya yang kulitnya putih, jangan pacaran kalo belom punya mobil/motor, orang yang cakep ya pasangannya harus sama yang cakep juga, apalagi?
Standard-standard di atas dan standard-standard lain yang ngga gue sebutkan sering jadi pokok utama bahasan di pikiran kita dan kalo kita merasa ngga mampu memenuhinya, kita merasa ngga aman–insecure. Kita merasa jauh dari komunitas yang kita inginkan, kita merasa kurang fit-in. Dalam hal ini–seperti kata postan gue yang sebelumnya–media dan industri periklanan merupakan aktor yang membentuk standard-standard itu muncul di tengah-tengah kita. Media khususnya, menjadi penentu orientasi kita terhadap hidup kita sendiri. Bayangin dulu jaman media belum ada, belum ada globalisasi, orientasi seorang remaja yang hidup di tengah-tengah keluarga militer kerajaan ya adalah menjadi prajurit yang handal. Sekarang, dimana sarana informasi dan komunikasi hampir ngga ada batasnya, seorang remaja yang hidup di tengah keluarga militer pun bisa punya orientasi untuk menjadi youtuber. Pada era globalisasi ini juga kita semua kenal sama yang namanya trend. Dan tidak sedikit jumlah manusia yang selalu berusaha mengikuti trend supaya “diakui” dan ya kembali lagi, merasa safe.
Banyak orang-orang di sekitar gue yang merasa insecure, merasa tidak safe kalo mereka tidak memenuhi standard-standard itu. Salah satu temen SMA gue yang sekarang kuliah di Bandung pernah bilang, kalo dia ngga ikut-ikutan ngeclub, dia ngga punya teman. Banyak diantara kita–cowok ataupun cewek– yang merasa diri kurang mampu memenuhi standard-standard itu. Perempuan umumnya insecure masalah fisik, karena paradigma yang terbentuk adalah perempuan memikat lawan jenis lewat fisik. Sedangkan laki-laki umumnya insecure masalah materi, karena paradigma yang terbentuk adalah laki-laki memikat lawan jenis lewat materi. Jangan cepat merasa butthurt, this is the reality and don’t forget i put the word “umumnya” di sana untuk menghindari generalisasi. Salah satu kawan gue juga pernah bilang begini, “Kok itu cewe susah ya gue dapetin, padahal gue udah bawa mobil P****o”. Kawan gue yang lain juga pernah bilang ke gue, “itu wenno juga modal motor doang bisa punya cewe”. Yaa i don’t really like to comment about this thing.
Di post ini sebenernya gue mau bacotan ria soal self esteem atau harga diri. Ada hubungannya dengan pembahasan tadi. Secara sadar atau tidak sadar, dengan mengikuti standard-standard itu, kita jadi merasa pede, merasa punya harga diri. Setelah kita punya iphone, kita merasa harga diri kita naik, kita bawa mobil mewah ke kampus dengan dagu sedikit naik, kalo kita punya pasangan yang cantik/ganteng (yang bisa dipamerin) kita merasa punya harga diri yang tinggi didepan orang banyak, tidak sedikit juga yang merasa “mahal” cuma karena punya pasangan yang rupawan. Actually, gue ngga pernah permasalahkan ideologi seperti itu. Prinsip gue semua orang bebas berfikir dan bebas memilih ideologinya. Tapi gue pengen mengkritisi dengan mengajukan satu saja pertanyaan, who are you without those things?
Temen gue yang biasa bawa moge ke kampus, suatu saat harus pake kereta karena daerah sekitar rumah dia banjir. Dia cerita kalo merasa malu, merasa bukan diri dia banget naik kereta itu. So, who are you without those things?
Pertanyaan itu akan bercabang lagi, are you still the same person if those things are removed?
Gue ngga bermaksud judging, gue cuma ngasih contoh dan bukti bahwa ini bukan ada-adaan pikiran gue aja. Gue juga pernah di posisi yang pengen banget ikut trend, pengen banget ikutin standard-standard itu, gue paham gimana tidak nyamannya berada di luar standard itu (semua masing-masing juga gue yakin paham).
But here is my point of view, try to live like a salmon.
Salmon itu mahal bukan karena dia berenang ikut arus, tapi justru karena dia melawan arus. Kita sadar bahwa standard-standard sosial itu seolah menjadi arus yang derasnya bukan main di hidup kita. Di tengah-tengah digitalisasi dan globalisasi ini kita juga sering kena arus yang namanya trend. Trend itu macem-macem bentuknya. Tidak jarang juga trend itu jadi standard sosial tertentu.
Pilihannya ada dua: ikutin atau tidak. Berenang mengikuti arus itu enak, gampang, dan nyaman, tetapi kita ngga bisa milih kemana arah arus itu membawa kita. Berenang melawan arus itu susah, sulit, berdarah-darah, tetapi kita bebas nentuin arah kita sendiri. If you ask me what is my choice, i choose to not following down the stream.
Gue pilih itu bukan berarti pilihan lain itu salah, ngga gitu konsepnya.
Berenang ikut arus itu emang enak, safe, dan nyaman. Tapi soal arah hidup gue, gue ngga bisa terima kalo harus diatur oleh standard-standard itu. Nyaman sih memang hidup ikutin arus, tapi subconciously hidup kita di luar kendali kita, kita hanya following down the stream.
Kalo kita memilih untuk melawan arus, harga diri kita ngga ditentuin dari standard-standard itu. Kalaupun ada beberapa standard yang kita bisa penuhin, itu sama sekali ngga pengaruh sama harga diri kita. Dan kalo semisal kita tiba-tiba ngga bisa menuhin standard itu, ya diri kita tetep kita, ngga berubah. Seumpama kita adalah manusia setengah salmon, yang mengikuti salah satu standard sosial misalkan mahasiswa sukses itu yang bisa biayain kuliahnya sendiri. Saat kita mampu memenuhi standard itu, diri kita adalah kita. Kemudian tiba-tiba bisnis kita mogok karena pandemi covid, apakah kita jadi bukan siapa-siapa? ya nggak. Kita tetep diri kita yang sama seperti kita dulu yang masih bisa biayain kuliah sendiri.
Ini mungkin kurang bisa dijelasin dengan kata-kata, karena ini bukan soal materi atau bisnis–ini soal cara pandang kita. Hidup seperti salmon bukan berarti menjauhkan diri dari standard-standard itu, boleh aja ikut, tapi jangan jadikan standard-standard tersebut sebagai syarat hidup kita. Jangan melekatkan harga diri kita ke standard-standard itu, karena kalau suatu saat kita tidak lagi bisa memenuhi standard itu, kita juga akan kehilangan diri kita. Kalau mau ikutin standard, boleh, tapi jangan terlalu menghargai apa yang kita punya sampe-sampe kita lupa menghargai diri sendiri. Saat kita bilang kalo kita ngga bisa hidup tanpa memenuhi standard itu, artinya kan penghinaan bagi diri sendiri. Kita tetep bisa hidup kok meskipun ga ikut arus. Gimana caranya? ya buat arus baru.
Build your own stream, so that everybody could follow.
Stop being a follower, start being a leader.
