KEBAHAGIAAN SEJATI

Kalo ditanya tujuan hidup kita apa, pasti ngga jauh dengan kata “bahagia”.
Mau bahagiain orangtua, bahagiain pasangan, bahkan bahagiain Tuhan. Kalo ditanya apa yang menjadi kebahagiaan kita, kita dengan mudah memikirkannya tapi sangat sulit mengucapkannya. Sebab kebahagiaan sejati di dalam diri kita sudah terkontaminasi opini, stigma, dan paradigma yang terjadi karena globalisisasi.

Dalam rangka pencarian kebahagiaan itu, manusia tak jarang berbenturan dengan kebahagiaan orang lain. Bahkan tidak tanggung-tanggung, rela menderita-kan orang lain demi membahagiakan diri sendiri. Dalam hidup kita, kita terus mencari kebahagiaan dimanapun dia berada dan bagaimanapun caranya.

Sejauh kita hidup, mungkin seolah-olah sumber kebahagiaan adalah faktor-faktor material, seperti kekayaan, dan makanan. Bila orang lebih kaya dan lebih sehat, maka pasti mereka lebih bahagia. Namun apa iya segampang itu? Para filsuf dan rohaniwan merenungkan arti kebahagiaan selama ribuan tahun dan menyimpulkan bahwa faktor sosial, etis, dan spiritual punya dampak yang sama besarnya terhadap kebahagiaan kita seperti kondisi material. Masyarakat sejahtera modern justru sangat menderita akibat keterasingan dan kekosongan makna meskipun mereka makmur. Di samping itu, mungkin leluhur kita di abad pertengahan yang tidak punya apa-apa justru menemukan kebahagiaan yang sama dalam masyarakat, agama, dan kedekatan dengan alam.

Kalo bicara soal korelasi antara kebahagiaan dan kekayaan, coba kita perhatiin data berikut. Korea Selatan di tahun 1985 merupakan negara yang relatif miskin dan dipimpin oleh rezim otoriter memiliki 9 dari 100.000 orang yang bunuh diri dalam setahun. Korea Selatan di abad baru-baru ini, merupakan salah satu negara tersukses di Asia memiliki 16 dari 100.000 orang bunuh diri dalam setahun. Pada abad ke-20, Singapura memiliki GDP sebesar $56.000 dan Costa Rica memiliki GDP sebesar $14.000. Hasil survei membuktikan bahwa masyarakat Costa Rica memiliki tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi dibanding Singapura. Kekayaan dan kemakmuran mungkin bisa membuat kita bahagia, tapi apa itu adalah sumber kebahagiaan?

Definisi kebahagiaan yang umum adalah kesejahteraan subjektif atau subjective well-being. Menurut pandangan itu, sesuatu yang saya rasakan dalam diri, perasaan nikmat langsung ataupun jangka panjang tentang bagaimana hidup saya berlangsung. Bila kebahagiaan datangnya dari dalam, gimana bisa diukur dari luar?

Dari literatur yang gue baca, ada 2 mazhab yang berkembang tentang kebahagiaan, yaitu menurut psikologis dan biologis.


Menurut pakar psikologis, kebahagiaan ditentukan oleh harapan subjektif atau ekspektasi. Kita bukan bahagia karena kondisi damai atau makmur, tapi kita bahagia karena realitas sesuai dengan ekspektasi kita. Berita buruknya adalah makin baik kondisi kita maka makin tinggi juga ekspektasi kita. Misalkan kita adalah orang yang sehat dengan gaji IDR 500 juta/bulan, apakah kita cukup bahagia kalo kita sadar bahwa kita sehat? Bukankah ekspektasi kita akan kebahagiaan itu juga akan naik tingkat? Misalnya punya mobil bagus atau pacar cantik. Bagaimana kalo kita adalah remaja sakit-sakitan yang hidup miskin, bukankah kita akan lebih bahagia kalo tau bahwa kita sehat? Lebih milih punya mobil atau sehat?
Sayangnya dewasa ini, ekspektasi kita juga tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi pribadi, tapi opini, stigma, dan paradigma yang ada di sosial kita. Yang berperan sangat besar dalam hal ini adalah kedua pilar masyarakat kita–media massa dan industri periklanan. Seolah-olah kedua pilar tersebut merenggut kebahagiaan itu dari dalam diri kita.
Contohnya jika kita adalah remaja laki-laki 5.000 tahun lalu yang hidup di desa kecil dengan total 50 orang laki-laki, mungkin kita ngerasa ganteng karena laki-laki yang lain ada yang sudah tua, masih bayi, atau jelek.
Tapi kalo kita remaja masa kini, kita akan sulit merasa cakep bahkan jika anak-anak di lingkungan kita jelek-jelek. Kenapa? karena kita bukan membandingkan diri kita dengan anak-anak itu, tapi dengan bintang film atau bintang iklan yang ada di media massa. Masalah ini kita kenal sebagai insecurities.

Menurut pakar biologis, kebahagiaan di dalam diri kita diatur oleh mekanisme kimiawi dan tidak ditentukan dari keadaan luar seperti naik gaji, punya pacar cantik, dll. melainkan ditentukan oleh zat biokimiawi seperti serotonin, dopamin, dan oksitosin. Keadaan luar dapat menyebabkan serotonin disekresikan, namun tidak mengubah kadar serotonin sehingga tidak membuat orang lebih bahagia.
kalo kondisinya begini, berarti uang, status sosial, kekayaan, jabatan tidak membawa kebahagiaan buat kita. Kebahagiaan yang bertahan lama hanya berasal dari serotonin, oksitosin, dan dopamine. Biar lebih paham enaknya dikasih contoh, misalkan ketika kita menang giveaway Toyota 86, tubuh kita mensekresikan serotonin x mg. Di sisi yang lain, misalkan seorang kepala keluarga miskin yang dapet bantuan sosial dari negara, tubuh dia mensekresikan jumlah yang sama dengan tubuh kita yaitu x mg. Artinya bahwa walaupun yang kita dapet sesuatu yang bisa dikatakan lebih mahal (dari sisi materi) dibanding bansos itu, kita tidak lebih bahagia dari beliau. Menurut pandangan ini, untuk kita bisa bahagia kita tidak perlu mendapatkan hal-hal tersebut, cukup memanipulasi hormon-hormon tadi aja.

Jika disimpulkan dari kedua pandangan tersebut, bisa disimpulkan bahwa perasaan bahagia itu hanya getaran sementara. Dari sisi psiklogis, perasaan bahagia erat hubungannya dengan ekspektasi. Sedangkan ekspektasi kita juga meningkat seiring membaiknya kondisi kita. Jika begini artinya kita akan terus memiliki ekspektasi. Walaupun kondisi kita makmur, jika ekspektasi tersebut tidak sesuai realita–kita tidak bahagia. Dan ketika ekspektasi tersebut tercapai, kita tidak berhenti, kita kan terus membuat ekspektasi-ekspektasi lainnya. Hal tersebut disebabkan karena kita cenderung mencari hal-hal yang membahagiakan kita dan menjauhkan hal-hal yang menyakitkan atau menyedihkan. Dalam hal pencarian tersebut, kita tidak pernah puas dan kita dihantui oleh ketakutan bahwa hal membahagiakan itu akan hilang. Dari sisi biologis, tentu kadar serotonin, oksitosin, dan dopamin akan turun seiring waktu. Karena jika kadarnya tetap tinggi, mungkin manusia akan mati kelaparan akibat perasaan puas yang terus menerus setelah berhubungan seks.

Lalu bagaimana kita mendapatkan kebahagiaan yang sejati?
Kita telah memahami bahwa dalam rangka mengejar kebahagiaan dan berusaha mempertahankannya, kita hanya membuat penderitaan sendiri karena kita berusaha keras mengejar hal yang sementara dan berusaha mempertahankan hal yang memang diciptakan untuk ada sementara.
Dalam hal ini, para filsuf dan rohaniwan sudah banyak merenungkan apa arti penting kebahagiaan yang sejati. Kita ambil contoh dalam ajaran Buddha.


Menurut agama Buddha, kebahagiaan sejati adalah waktu kita menyadari bahwa perasaan bahagia dan sedih akan ada terus di dalam hidup kita dan kita berhenti mengejar perasaan-perasaan tertentu yang bersifat sementara tadi. Karena bahkan ketika kita mengalami kebahagiaan, akal budi tidak puas karena takut perasaan itu akan hilang. Orang terbebas dari penderitaan bukan ketika mereka mengalami kenikmatan sementara ini-itu, namun justru ketika mereka paham bahwa semua perasaan hanya sementara, dan berhenti mengidam-idamkan perasaan nikmat sementara.
Menurutn ajaran Kekristenan pun begitu, bahwa kebahagiaan sejati adalah berhenti mengejar hasrat-hasrat manusiawi yang bersifat sementara, dan hidup berfokus dengan Kristus. Karena fokus dengan Kristus, kita akan melupakan ekspektasi-ekspektasi kita terhadap hidup ini dan bersyukur apapun perasaan yang terjadi dalam diri kita.

Ketika pengejaran itu berhenti, akalbudi menjadi santuy, jernih, dan puas. Segala macam perasaan yang naik turun–suka cita, marah, bosan, nafsu. Ketika kita berhenti mengidamkan perasaan tertentu, kita mulai menerima mereka apa adanya. Kita hidup untuk saat ini, bukan berfantasi mengenai apa saja yang bisa terjadi.

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started