THERE’S NO GROWTH IN A COMFORT ZONE

Sebelum masuk kuliah–jaman sekolah, gue udah suka ketemu sama macem – macem orang. Waktu masuk kuliah, ternyata gue nemu jenis manusia yang belum pernah gue temuin sebelumnya, dan jumlahnya sangat banyak–comfort-zoner.

Comfort-zoner ini adalah manusia – manusia yang kerjanya ngeluh mulu, yang kerjanya ngemis minta bantuan dengan membawa dalih pertemanan. Kata ‘bantuan’ disitu bagi gue agak rancu, karena implikasinya bukan bantuan secara harafiah. Saat kita membantu seseorang, artinya kita bukan menyelesaikan 100% persoalan dia. Membantu itu ibarat kita buatin sayap untuk orang yang mau terbang, entah kita bantu buatin 1 sayap atau 2 sayap sekaligus. Tetapi tetep untuk bisa terbang, orang itukan harus mengepakkan sayapnya sendiri toh?
Nah, dalam hal ini seorang comfort-zoner tidak sama sekali ngebuat 1 sayap, atau 2 sayap, atau bahkan mencoba untuk terbang! Lalu apa yang dia lakukan? dia meminta bantuan kepada orang lain untuk menerbangkan dirinya.

I have just wondering that why this kind of people has such a mindset like that.
Gue pernah berdebat hebat dengan salah satu comfort-zoner yang tidak lain adalah temen kuliah gue soal tanggungjawab utama seorang mahasiswa–kuliah yang bener.
Dia sangat mengeluh kalo dia ga bisa belajar di kelas, dia ga mampu ngikutin pelajaran, and so on dan dia membutuhkan bantuan gue untuk “meluluskan” dia dari kuliah. Gue sangat bersedia, kalo gue bisa bantu orang lain kenapa ngga bukan? tapi ada 1 hal yang gue garisbawahi, gue ngga bisa bantu 100% persoalan dia karena gue juga punya persoalan yang sama loh, gue juga harus lulus di tempat yang sama dengan nilai yang memuaskan juga kan?
Tapi begini, teman – teman. Berdasarkan yang gue lihat tiap hari di kampus ini orang cabut kelas, ngga mau belajar, ke kampus cuma judi dan sebagainya. Gue sebagai temen memang akan membantu, tapi gue merasa punya beban lebih untuk mengingatkan dia bahwa bagaimana bisa lu aja belum berusaha (menurut gue, berdasarkan kelakuan dia yang gue liat) belajar kemudian lu minta bantuan orang lain untuk “meluluskan”? dan apa jawaban dia?

“Gue ngga sanggup wen, lu enak darisananya pinter, gue mana kaya lu. Orang beda – beda wen jangan disamain.”

Gue tersentak denger jawaban itu.
Oke pertama gue juga paham bahwa we can’t judge a fish by its ability to climb a tree, itu kata – katanya Einstein gue juga paham. Orang memang beda – beda secara psikologis, tapi secara biologis, anda manusia normal–gue manusia normal–ya sama aja. Pertanyaan besarnya adalah anda mau ngga lakuin itu? Kan anda tidak mampu bukan karena anda tidak mampu secara biologis, tapi tidak mampu secara psikologis dimana bahasa gamblangnya adalah anda tidak mau melakukannya. Secara biologis, semua manusia normal punya 2 milliar sel otak, kecuali anda menyebut diri anda keterbelakangan mental oke gue bisa ngerti. Secara kapasitas, semua sama. Kalopun ada perbedaan, gue yakin hanya perbedaan minor yang bisa ditoleransi.

Maksud gue begini loh teman – teman, gue ngga bermaksud orang tersebut harus punya pencapaian yang sama kaya gue, nggak. Gue juga mengerti dan menghargai psikologis dia yang mungkin tidak suka dengan pelajaran akademis. Tapi at least, you push until your limit and if it doesn’t enough, baru minta tolong orang lain. Pertanyaan besarnya kan apakah anda sudah push diri anda sampe batas? dan apakah anda tau batas diri anda? Anda terlalu pragmatis dengan mengabaikan pertanyaan – pertanyaan itu kemudian meminta orang lain untuk menjawabnya.

Zona nyaman itu memang berbahaya, tapi enak. Tom Hardy pernah memberitahu cara untuk memusnahkan impian seorang laki – laki, dengan cara memberikan hal – hal duniawi kepadanya seperti a lot of money, constant sex, a dream island, and so on. Semua yang sifatnya membuat kita bertumbuh itu diluar zona nyaman. Contohnya harus belajar pahamin materi kuliah, belajar pahamin ajaran agama, menyusun proyek jangka panjang, setting up bisnis, latihan keras supaya jadi atlet nasional, dll. Semua butuh alokasi energi, pikiran, waktu kita supaya kita tumbuh. Belum lagi kita akan nemuin kegagalan yang akan membutuhkan lipat gandaan dari hal yang gue sebutin tadi. Itu sangat melelahkan dan menyakitkan teman – teman, gue paham kenapa banyak orang yang nolak melakukannya. Tapi bukannya hanya dengan cara – cara seperti itu, kita bisa tumbuh dari orang yang lebih baik. Bahkan keterampilan kita dan pola pikir kita akan tumbuh dengan pesatnya.

Balik lagi ke sang comfort-zoner itu. Mungkin dia sedang berada di uncomfort zone lain yang bukan soal kuliah dan dia sedang berusaha keras untuk menang (positif thinking).
Sampe akhirnya karena memang sudah sangat keras kepala, yasudah mau gimana. Gue tetep bantu kalo gue ada kesempatan untuk bantu.
Pola pikir itu menentukan masa depan kita, so if you want to change your reality, change your mind.

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started