Agama dan Ideologi : Satu Jiwa, Dua Raga

Ribuan tahun lalu, manusia hidup ngga jauh beda kaya hewan. Hidup berkomunitas, mencari makan, tidur, bereproduksi, membesarkan anak, repeat.
Sampe saat dimana manusia menyadari ada kekuatan adimanusiawi yang hidup berdampingan dengan diri mereka.

Menurut gue, manifesto dari kesadaran manusia tersebut dituangkan dalam bentuk yang macem – macem. Salah satu contohnya adalah hukum alam. Salah satu contoh hukum alam yang terkenal adalah hukum karma. Kalo lo berbuat jahat, lo akan dapet kejahatan, dan kalo lo berbuat baik, lo akan dapet kebaikan dari perbuatan lo.
Hukum karma seolah adalah ketetapan yang manusia yakinin (terutama yang mempercayai) tidak ada yang bisa membantah atau mengganti.

Ngomongin soal kekuatan adimanusiawi, yang terlintas di pikiran kita pasti adalah kekuatan Sang Maha Dahsyat yang kita kenal sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Dalam menyikapi keberadaan Tuhan YME, manusia berlomba-lomba menerjemahkannya ke dalam berbagai agama. Agama juga salah satu manifesto dari kesadaran manusia akan hal diluar kekuatan manusia (adimanusiawi).


Agama adalah suatu sistem norma dan nilai manusia yang berdasar kepada tatanan adimanusiawi. Biar bisa lebih dipahami, gue kasih contoh lain–sepakbola. Sepakbola adalah sistem norma dan nilai manusia, tetapi tidak berdasar kepada tatanan adimanusiawi. Sepakbola bisa kapan saja dibubarkan oleh FIFA, dan tatanannya pun dapat dengan mudah diubah-ubah. Contoh lain, teori relativitas-nya Albert Einstein. Teori ini merupakan suatu tatanan adimanusiawi, yang berarti teori ini tidak bisa manusia hilangkan. Tetapi teori relativitas tidak mengatur norma dan nilai manusia.

Di zaman modern ini sadar atau ngga sadar, kehidupan dan alam bawah sadar kita udah banyak dipengaruhin sama agama-agama hukum alam yang baru contohnya liberalisme, komunisme, kapitalisme, nasionalisme, atau sosialisme. Ajaran – ajaran itu emang ngga suka disebut agama, lebih suka disebut ideologi. Tapi apa bedanya?
Kalo agama adalah suatu sistem norma dan nilai kemanusiaan yang berdasar kepada tatanan adimanusiawi sebagaimana Islam dan Kristen, dan lainnya, Komunisme Soviet juga bisa dianggap agama. Kristen tentu beda dengan komunisme, karena Kristen atau Islam memandang tatanan adimanusiawi sebagai kehendak Tuhan YME, sedangkan komunisme Soviet tidak mempercayai tuhan. Komunisme memercayai tatanan adimanusiawi berupa hukum alam yang tak mungkin diubah dan harus memandu tindakan-tindakan manusia. Sementara pemeluk Kristen memercayai bahwa tatanan tersebut berasal dari Firman Tuhan, kaum Komunis mempercayai bahwa tatanan tersebut lahir dari seorang filsuf Jerman bernama Karl Marx beserta rekan-rekannya yaitu Friedrich Engels, dan Vladimir Ilyich Lenin. Kemiripannya ngga sampe situ aja, komunisme juga punya kitab suci dan kitab nubuatnya, seperti Das Kapital karya Karl Marx. Komunisme juga punya hari raya agamanya yaitu 1 Mei dan peringatan Revolusi Oktober di Soviet.
Mirip dengan Kristen, komunisme juga punya ahli-ahli “teologi” yang menguasai dialektika Marxis, dan setiap balatentara Soviet memiliki seorang “rohaniwan” yang disebut komisar, yang menantau kepatuhan para prajurit dan perwira. Komunisme Soviet adalah agama yang fanatik dan menyebarkan agamanya.
Seorang Komunis taat tidak bisa menjadi penganut Kristen atau Buddha, dan diwajibkan menyebarkan ajaran Marx dan Lenin meskipun mengorbankan nyawa.

Ini ngga berlaku hanya untuk komunisme, begitu juga agama yang sangat dekat dengan diri kita–humanisme.
Agama – agama teistik menyebah ilahi, agama – agama humanis memuja kemanusiaan.
Humanisme adalah kepercayaan bahwa manusia memiliki hakikat yang unik dan sakral, yang secara mendasar berbeda dengan hewan lain dan semua fenomena lain. (Harari, 2014). Kaum humanis percaya bahwa hakikat unik manusia adalah hal terpenting di dunia, dan hakikat tersebut menentukan segala sesuatu yang terjadi di dunia. Kebaikan tertinggi adalah kebaikan manusia. Seluruh dunia dan semua mahkluk lain ada semata demi kepentingan manusia.
Sampe saat ini, humanisme terpecah menjadi sekte-sekte seperti yang terjadi pula pada agama – agama teistik. Salah satu sekte humanisme yang populer adalah humanisme liberal, yang mempercayai bahwa “kemanusiaan” adalah suatu sifat individu – individu manusia, dan bahwa kebebasan individu bersifat keramat. Menurut kaum liberalis, hakikat sakral kemanusiaan dimiliki oleh setiap individu manusia. Paham ini secara kolektif disebut sebagai ‘hak – hak asasi manusia’.

Berapa diantara kita yang beragama teistik, yang juga punya paham yang sama seperti hal-hal diatas? Kalo gue Kristen, apa gue juga boleh mempercayai beberapa hal yang ada di Islam?
Kalo gue Islam, apa gue juga boleh mempercayai beberapa hal yang ada di Humanisme liberal atau komunisme?
Mungkin ajaran – ajaran itu lebih suka disebut sebagai ideologi, bukan agama.
Ideologi dimaksudkan sebagai cara pandang suatu individu terhadap hal-hal yang terjadi di kehidupan individu tersebut. Cara pandang tersebut menuntun manusia untuk menerjemahkan hal – hal yang terjadi dalam hidupnya, serta sebagai dasar dalam manusia menyelesaikan masalah-masalahnya. Lantas apa bedanya dengan agama?
Agama juga menuntun manusia untuk memiliki cara pandang hidup yang termaktub dalam kitab-kitab suci masing-masing agama. Agama juga menuntun kita untuk menyelesaikan masalah-masalah dengan sikap dan cara yang sesuai dengan ayat-ayat suci di dalam kitab.
Karena kenaifan kita selama ini, kita seolah seorang Kristen yang taat dengan perilaku seorang liberlis yang taat. Gimana itu bisa terjadi?

sumber intelektual :
Harari, Yuval. 2014. Sapiens : A Brief History of Humankind. Jakarta : Gramedia
first published in Israel as Kitzur Toldot Ha’enoshut
CR 2011 by Yuval Noah Harari

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started