Awal tahun 2020 memang awal tahun yang paling beda dari yang lain, khususnya selama gue hidup. Mulai dari banjir, sampe isu perang dunia ke-3.
31 Desember 2019, China mengonfirmasi kasus kematian akibat pneumonia berat yang diduga berasal dari pasar makanan laut Huanan. Berdasarkan informasi dari WHO, diduga berasal dari virus yang belum teridentifikasi. Setelah kurang lebih 1 bulan, virus baru ini akhirnya teridentifikasi dan ternyata, masih saudara dekat sama virus serupa; SARS-cov, dan MERS-cov. Tahun 2002, SARS-cov dengan mortality 9,6% menginfeksi 8.437 orang dan 813 dinyatakan meninggal. MERS-CoV menginfeksi 2.494 orang dan 858 dinyatakan meninggal. Berdasarkan data dari sumber yang sama, kedua virus itu butuh sekitar 2 tahun untuk mencapai angka sebesar itu. Bulan Maret 2020, kurang lebih 2 bulan sejak Covid-19 pertama kali menyerang, tercatat sudah 181.562 kasus dengan korban meninggal sebanyak 7.138 orang. Ya, angka sebesar itu hanya dicapai Covid-19 dalam waktu kurang lebih 2 bulan.
SARS-cov-2 memang disinyalir lebih kuat 1.000 kali dalam mengikat sel dibanding saudara – saudaranya. Tapi apakah virus ini jauh lebih mematikan dari MERS-cov dan SARS-cov? Ternyata nggak juga. Berdasarkan data, mortality Covid-19 hanya 2-3% jauh berbeda dengan saudaranya yaitu SARS-cov sebesar 9,6% dan MERS-cov sebesar 34,45%. Terus apa yang membuat virus ini menginfeksi lebih dari 150 negara dan kematian lebih dari 4.000 jiwa? Sebenarnya apa yang terjadi?
2 Maret 2020, pemerintah Indonesia secara resmi mengumumkan bahwa Covid-19 sudah masuk ke Indonesia. Sejak saat itu, masyarakat panik. Semua kebutuhan pokok diborong habis; susu, makanan instan, minuman, semua habis. Ngga cuma itu, alat – alat kebersihan juga semuanya diborong habis; masker, hand sanitizer, alkohol, semua habis. Untuk dipakai sendiri? sayangnya ngga, semua itu untuk dijual kembali. Terus yang beli kebutuhan – kebutuhan itu semua siapa? ya orang – orang yang mampu aja, yang nggak mampu boro – boro mau ngeborong, buat makan aja pas – pasan.
Fenomena begini juga bikin harga peralatan kebersihan melonjak naik nggak masuk akal, padahal barang – barang itu statusnya menjadi kebutuhan pokok. Terus yang bisa beli peralatan kebersihan itu siapa? hanya orang – orang mampu aja?
Apa dipikirannya hanya orang – orang mampu aja yang berhak selamat dari virus ini?
Bisa – bisanya masih nyari keuntungan dari fenomena tentang nyawa orang lain begini.
Di tengah – tengah masa pandemik ini, banyak negara – negara lain yang pake cara lockdown. Sejak Wuhan dilockdown, jumlah pasien terinfeksi covid-19 menurun sejak 17 Maret 2020. Lockdown bukan tanpa konsekensi, perekonomian Wuhan juga menurun. Lockdown juga bisa menyebabkan banyak penjarahan, chaos karena masyarakat tidak bebas mencari kebutuhannya. Indonesia sampe tulisan ini dibuat, tidak dilockdown karna memang banyak banget pertimbangannya.
Untuk alternatif lockdown, pemerintah memberikan arahan berupa himbauan untuk tidak keluar rumah selama 14 hari. Semua pekerjaan yang bisa dilakukan online, lakukan online dulu. Tapi lo tau apa? mereka semua batu, mereka malah pake 14 hari itu jalan – jalan, lokasi wisata malah rame, dan pada nongkrong. Banyak memang yang tidak punya pilihan, yang mata pencahariannya harus kontak dengan orang lain, tak apa. Tapi mereka yang sebenarnya bisa lakuin pekerjaannya dirumah dan memilih untuk tidak peduli arahan pemerintah, gue gatau lagi apa yang dipikiran mereka.
Ada satu orang yang coba social experiment kenapa orang – orang masih aja aktivitas diluar. Kebanyakan dari mereka bilang tidak takut sama virus ini, yang lainnya tidak peduli omongan pemerintah. Iya bukan masalah takut apa ngganya, tapi penyebaran virus ini kan sangat cepat dan kita tau sendiri Indonesia ngga punya fasilitas sebanyak negara lain, Indonesia belum mampu bangun 16 rumah sakit selama 10 hari kaya China. Terus pasien – pasien yang ngga dapet tempat untuk dirawat mau dikemanain? mau dibiarin mati kaya di Italia?
Kesimpulan gue adalah, Covid-19 ini sebenarnya ngga jahat. Mortality ratenya juga kurang dari 5%. Sepertinya virus SARS-cov ini cerdas sekali bermutasi jadi SARS-cov-2, dia bisa liat kelemahan manusia yang paling fatal, empati. Pandemi ini tidak butuh obat yang paling mahal, hanya butuh kerjasama antar manusia. Tapi manusia lebih mudah membeli obat yang mahal sekalipun dibanding harus peduli dan bekerjasama dengan yang lain. Kenapa manusia modern ini begitu angkuh? Kenapa manusia modern hanya mau mendengarkan diri mereka aja?
Kalo memang kita sendiri ngga mau menurunkan ego masing – masing untuk ikut arahan pemerintah dan menjaga satu sama lain, bersiaplah negara ini jadi lumbung korban berjatuhan akibat COVID-19.
Semua informasi dan data bersumber dari Kompas.com dan CNN Indonesia
https://www.cnnindonesia.com/internasional/20200312160647-113-482934/membandingkan-wabah-sars-mers-dan-virus-corona/2
https://www.kompas.com/tren/read/2020/03/17/091500365/update-virus-corona-seluruh-dunia–terkonfirmasi-di-152-negara-78.939?page=1
https://www.kompas.com/tren/read/2020/03/12/113008565/timeline-wabah-virus-corona-terdeteksi-pada-desember-2019-hingga-jadi?page=4
