Haters and Bulliers

As we all know, people hate everything. People hate their life, people hate the truth, people hates somebody succeeds, people hate the others, people hate government, people hate changes, people hate God, everything.

Kenapa orang lebih mudah benci sesuatu dibanding cinta sesuatu? mungkin natur manusia adalah membenci?
Maka dari itu, suatu ajaran yang mengajarkan untuk membenci biasanya lebih mudah menjaring manusia dibanding ajaran yang mengajarkan untuk mencintai. Karena natur manusia yang sangat mudah membenci, akhirnya timbulah yang namanya haters.

Manusia itu cuma bisa membenci apa yang dia lihat, dia rasakan, dia dengar, dan dia hirup. Intinya hanya sejauh mana inderanya. Waktu kita dibenci sama orang, itu artinya kita “tercium” oleh inderanya. Kemudian kenapa orang benci sesuatu atau seseorang? simple aja, karena menurut mereka sesuatu atau seseorang itu bertentangan dengan prinsip dan pegangan hidup dia. Gue udah bilang di awal, people hates everything. Semua hal itu gaada yang ngga bakal dibenci, mau itu baik atau buruk sekalipun. Semua yang kelihatan orang dan kedengaran orang itu paling tidak punya pembenci. Apalagi di Indonesia, dimana di tengah – tengah masyarakatnya banyak tumbuh tuhan – tuhan kecil. Ada satu – satunya cara supaya sesuatu atau seseorang tidak dibenci; jangan ada satupun manusia yang tau.

Bicara soal hubungan manusia dengan manusia, kadang kita juga benci dibenci orang. Kita ngelakuin banyak hal pengennya disukain orang. Manusia punya natur yang menjadikan mereka mahkluk paling serakah, yaitu membenci dan ingin dicintai. Tapi itu hanya natur, natur bukan berarti ngga bisa dihilangin. Karna itu pula kadang kita lebih perhatian sama 1 hater, dibanding sama 100 likers. Bahkan ngga sedikit orang yang stress mikirin hatersnya, sampe lupa sama orang – orang yang ngga mempermasalahkan dia. Masalahnya manusia saat membenci sesuatu/seseorang, cenderung melakukan bully, kayak ngga puas gitu kalo yang dibenci itu dibiarin bebas.

Bully memang kadang ngga selalu karna benci, tapi becanda, fun dsb. Gue juga dulu waktu sekolah salah satu yang doyan banget jailin temen, make fun of them, etc. Dulu gue emang maksudnya becanda doang, sampe akhirnya ada temen gue yang tersinggung, gue mikir. Ternyata ukuran bully itu bukan di diri gue, tapi di diri orang yang dibully. Waktu gue make fun orang lain dengan bahan yang sama, dia ketawa – tawa aja ngga anggep itu bully, tapi giliran orang ini tersinggung dan cepet baper, karena ukuran mereka merespon jokes tersebut emang beda. Jadi demi hubungan antar manusia yang harmonis, cobalah dipikir dulu.

Semua orang pasti pernah dibenci dan dibully, bahkan seorang pembully pun pernah dibully. Seorang tokoh revolusioner dibenci orang – orang oligarki, seorang dermawan dibenci orang – orang nyinyir, bahkan Tuhan pun dibenci sebagian ciptaanNya.
Kita manusia ngga akan pernah luput dari kebencian seseorang, mau kita berbuat sebaik apapun. Berusaha disuka semua orang sama artinya dengan berusaha berperilaku sesuai dengan kemauan semua orang, apa sanggup kita memenuhi kemauan semua orang? Apa tidak lebih baik kita memenuhi kemauan diri sendiri aja?

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started