ME vs The World

Waktu kepikiran soal bumi, di pikiran gue ya bulet, punya banyak lapisan batu dll. Tapi pas kepikiran soal dunia? apaan ya? bentuknya gimana ya? warnanya? harumnya?

Gue sering kepikiran, apa bumi dan dunia itu sama? apa dunia itu cuma imajinasi kita doang? Kalo cuma imajinasi doang, kenapa atlas itu namanya peta dunia, bukan peta bumi? Bumi dan dunia itu sepertinya sama, hanya bedanya kalo bumi itu bendanya (earth) di dunia nyata, kalo dunia itu bumi yang ada di pikiran manusia. Waktu lagi jatuh cinta, ada ungkapan ‘you are my world’ dan bukan ‘you are my earth’ ?

Menurut teori sudut pandang yang gue percaya, berarti dunia itu beda-beda dong tiap manusia? Seorang musisi bilang dunia dia adalah musik, seorang superstar bilang dunia dia adalah popularitas, seorang kristiani taat bilang dunia dia adalah hidup di dalam Kristus. Lalu kalo orang bilang bahwa dia ingin menguasai dunia, dunia yang mana yang mau ia kuasai? Ternyata emang dunia itu ngga semudah itu didefinisiin.

Mungkin ngga ada seorangpun yang bisa definisiin dunia. Karna indera mereka sangat terbatas buat melihat seisi dunia ini. Sejauh manusia hanya bisa melihat sejauh mata ia memandang, ia hanya bisa mendefinisikan dunia sejauh ia memandang. Dunia itu kejam bagi orang-orang lemah, dunia itu kurang bagi orang-orang tamak, dunia itu menyenangkan bagi orang-orang ceria, dunia itu menakutkan bagi orang penakut. Dunia itu hanya realita yang tergambar dan teridentifikasi oleh pikiran kita. Menurut si kaya hidup di dunia harus punya uang banyak, menurut si bijaksana hidup di dunia harus punya akal sehat, menurut si agamis hidup di dunia harus punya tuhan.

Hidup di dunia itu ngga harus kaya, ngga harus miskin, ngga harus bertuhan, ngga harus open minded, cukup harus bernafas. Kita mungkin hidup di bumi yang sama, tapi belum tentu hidup di dunia yang sama.

Oke gue udah menyadari bahwa dunia itu beragam dan berbeda-beda, tapi kenapa seolah kita digiring untuk hidup di dunia yang bukan berasal dari pikiran kita, realita kita ya? Apa jangan-jangan yang sadar cuma kita?

Seolah-olah hanya insinyurlah yang bisa sukses, seolah-olah musisi dan atlet tidak punya masa depan. Seolah – olah hanya orang beragama yang bisa disebut ‘manusia’. Seolah-olah orang – orang transgender dan homoseksual ngga punya tempat untuk hidup walau hanya di pikirannya sendiri? Kenapa orang-orang berfikiran bahwa orang lain harus hidup di dunia yang mereka buat sendiri? kenapa suka sekali mengecilkan dunia orang lain? is that fair enough?

Dunia ngga cuma sebatas realita, tapi kebebasan berekspresi dan berpikir!

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started