Do we actually need a social approval?
Bagi gue, perlu banget. Manusia itu makhluk sosial, ngga bisa hidup tanpa orang lain. Walaupun memang rasanya makin dewasa, orang-orang makin kerasa malah kaya anjing. Tapi tetep, kita ngga akan bisa hidup sendiri. Akibat dari natur manusia yang cenderung berkelompok atau bersosialisasi adalah adanya social approval. Apa ya bahasa Indonesianya? Seperti pengakuan sosial begitu. Sekarang-sekarang ini banyak orang yang mengkampanyekan dirinya bahwasanya mereka adalah orang-orang yang “I don’t need social approval”, ya terserah mereka sih. Tapi menurut gua, mereka tetep berusaha “fit in social” pada society yang lainnya. Istilah social approval seolah-olah punya stereotype negative, cuma gara-gara oknum di society tersebut.
Kita semua pasti pernah denger kalo kepribadian diri manusia dipengaruhi juga oleh lingkungannya, itu menurut gue karena manusia cenderung berusaha adaptasi atau fit in di lingkungan mereka. Peristiwa itu menurut gue adalah usaha manusia untuk mendapat social approval. Social approval itu bukan habit yang buruk, itu adalah natur manusia. Terus kenapa sebagian orang menganggap itu buruk atau unnecessary? Ya karena dia berusaha fit in di social yang dicap buruk oleh sebagian besar orang. Contoh kasus aja, kita pasti pernah denger istilah pansos atau panjat sosial. Panjat sosial itu sebenernya rancu, di society seperti apa dia panjat? Seorang pemain bola yang latihan keras supaya diakui sebagai pemain hebat di negaranya juga termasuk panjat sosial, tapi dia ngga pernah dicap buruk sama sebagian orang. Panjat sosial identik sama cari sensasi, cari pamor, atau bikin momen yang cringe atau ridiculous supaya terkenal, misalkan seseorang kredit yeezy 15 tahun trus dimasukin instastory mulu ampe titik-titik, orang seperti itu biasanya yang dibilang pansos. Kita semua kadang ngga sadar bahwa kita masing-masing juga melakukan hal yang serupa, hanya beda society aja. Contoh, gue ni orangnya ambis parah di kampus, doyannya belajar mulu sampe mampus. Dengan gue rajin di kampus, gue mau orang-orang ngakuin bahwa gue ini bisa ngikutin pelajaran di kampus dengan cara belajar dan dapet nilai bagus, at least dosen gue mengakui deh gausah mahasiswa-mahasiswanya. Society gua adalah lingkungan akademis kampus, dan usaha gue buat dapet social approval adalah belajar sampe mampus, it’s kinda same thing tho. Contoh lagi dari hal sederhana, gue punya circle yang terdiri dari 4 orang kawan baik gue. Gue dan circle gue saling bantu soal apapun, gue pun pengen bisa bantu mereka karena mereka juga bantuin gua. Society gue adalah circle gue, dan usaha gue adalah mencoba jadi orang berguna buat circle gue, simple kan.
Kita bukan ngga butuh social approval, kita cuma ngga butuh social approval dari society yang kita maksud, dan membutuhkan social approval dari society yang lain yang lebih cocok dengan diri kita.
Mungkin segitu dulu, ini pandangan gue soal social approval yang mungkin sering jadi bahan pikiran lo juga. Kritik dan saran mungkin boleh lu kasih di sosial media gue di Instagram @georgewenno. Thank you.
